Langsung ke konten utama

Postingan

this,  a real sweet.  Jadi teringat masa ketika

A clog in the heart

How bad a day you had.. It's always been peaceful knowing you have someone to talk to... A friend that think your most Childish dream make sense Right to the head Hearing your heart A day to remember. Thanks. Wednesday.  In the third week of September.

kuarsa 2

dan waktu ketika kita bicara pada jendela yang sama sekali lagi menerka apa lagi yang kan kita coba pikirkan satu alasan baru kau ingin perjuangkan bersamaku jadilah pendahulu karena orang berkata mengapa mereka harus cinta yang terus menutup mata pada orang orang disekitarnya mengapa mereka harus suka yang tak berniat menghilangkan luka tak mau berlari arungi samudra muram diam tak bersuara dan waktu ketika kita bicara pada jendela yang sama sekali lagi menerka apa lagi yang kan kita rasa chs. A humanism poet that inspired by life about somebody who never knows the reason for his/her losing enthusiasm in every single thing he does. This is a mono dialog he made. He does feel something wrong yet can't fix it.  He wanna do find an answer.  An action-reaction do exist, in a strange-unexpected way

Sentuhan Kalbu Keimanan

Di suatu daerah yang jauh dari hiruk pikuk kendaraan, di tempat yang kicauan burung masih terdengar dan udara yang selalu terasa layaknya usai dibilas hujan, tersebutlah seorang guru yang amat bijaksana. Guru itu sangatlah pandai dan sabar. Setiap sore hari, beliau mengadakan mentoring sehingga murid-muridnya akan berkumpul mengelilinginya untuk menanyakan apa saja yang tidak mereka mengerti kepada beliau. “Pak Guru, apakah benar Tuhan itu ada?” ujar salah seorang muridnya. “Ya, tentu saja!” jawab beliau. “Tapi Pak Guru, bagaimana kita bisa percaya sesuatu yang tidak bisa kita lihat??” “Ibaratnya begini anakku, misalnya kamu terjatuh dan terluka. Lalu lukamu mengeluarkan darah. Kamu mengatakan kalau kamu sakit. Tapi bagaimana kami bisa mempercayaimu? Bolehkah kita memutuskan kalau rasa sakitmu itu tidak ada karena kami tidak bisa melihatnya? Tentu tidak. Jika kita menggunakan logika kita, kita akan melihat tanda dari rasa sakitmu, misalnya, darah yang keluar dari lukamu. Sam...

Nyampah dikit part 1

"Nikmatilah apa yang telah menjadi pilihanmu." Kalimat itu mengiang di telinga kami bertiga, setelah satu tahun lalu diutarakan kepadaku oleh seseorang di momen yang serupa. Dan kini akulah yang mengucapkan kalimat itu kepada dua adik tingkatku. Kami bertiga merenung, melayangkan pandang ke arah hijau pepohonan sekitar kolam intel dan asrinya labtek 7, ditemani sejumlah pertanyaan yang dulu juga pernah aku lontarkan saat berada di posisi mereka, memandang gambaran tingkat dua yang masih abu-abu. Pernahkah kau merasakan kenyamanan dalam kesunyian? Semakin aku menceritakan yang telah kulewati sebelum mereka, rasanya semakin aku kembali ke masa itu. Mungkin suasana 1 tahun lalu yang kembali datang, ketika wisgus, diklat, dan osjur menjadi satu. Masa-masa euforia dan tertantang, perpisahan dan pertemuan, masa saat perjuanganmu dan teman-teman dipertanyakan, dan masa yang paling indah untuk menerka-nerka. Aku telah banyak berpindah. Salah satunya adalah pindah rumah dan ke...

Nostalgia

Nostalgia ----- Semburat warna yang sendu tak usik bahagia di kalbu dan bulir-bulir kristal  pun  melag u jatuh damai dalam muram nya  tanah kelabu gemericik milik si bulir-bulir awan mendung kini kian beradu bagai lagu menggugah pada rindu yang dulu dan imajiku mulai mengembara ‘ada dimana’? sebaran gegap gempita pada hitam yang dulu ada bila saat ku bertanya kuharap kau akan berkata ‘setelah kau lelah berkelana, temukanlah kembali hati yang selalu sama,’   Bandung 27 Juli C.Amalia
The time the sun sets is a beautiful moment lasts for only 5 minutes, then fade away. It hurts like..what?
Seribu untuk seorang muallaf Doa dan hadiah yang lebih indah di akhirat Pekerjaan bukanlah yang memberimu berkah Sholat dhuha nak, dan mintalah pada Allah!

CRYPTEX - A secret floor

Aku mengemasi barang-barangku. Mereduksi sebanyak yang aku bisa, agar ransel itu tak berat saat kubawa. Jaket, laptop, peralatan mandi, dan beberapa perkakas kumasukkan ke dalam ransel biruku. Lift berbunyi lagi. Pintu lift terbuka. Katingku telah menunggu di dalam lift. Aku dan beberapa temanku bergegas memasuki lift. Kami akan membuktikan mitos lantai tersembunyi dari gedung ini. Beberapa orang tertentu kami tahu pernah mengakses lantai rahasia ini. Pada lift hanya ada tombol hingga ke lantai 12. Namun, menurut orang yang telah kuinterogasi, salah satunya adalah kating mikroku, ada 1 tombol lagi yang letaknya agak jauh dari tombol-tombol yang lain. Aku mengamati, dan kutekan tombol bertuliskan angka 2 berada jauh di atas tombol-tombol yang lain. Tombol itu terlihat seperti tombol biasa, hanya saja agak susah menjangkaunya. Mengapa 2? Entahlah, memang begitu adanya. Lift bergerak naik, dan kurasakan udara dingin berasap seolah menembus masuk ke dalam lift. Ting! Pintu terbuka,...

Sunday #3

Juni. Hujan lagi, Sunday merenung, memainkan ujung sepatunya ke cipratan air yang menetes dari atap koridor. Lagi-lagi ia tidak membawa payung. Tasnya sudah cukup berat membawa-membawa laptop dan aneka barang yang ia masukkan ke dalam tas pagi tadi. Satu buah payung baginya tentu akan memakan ruang cukup besar di tasnya yang cukup padat. Satu-satunya yang muncul di kepalanya sekarang adalah mengambil jaslab dari tasnya dan memakainya sebagai payung saat ia berlari menyebrangi lapangan. Tapi hal itu masih ia timang-timang. Sunday menengok ke belakang, lalu dengan cepat kembali ke arah semula ia menatap. Rupanya apa yang ia cari tak kunjung nampak. "Ahh sudahlah, aku tau dari awal ini akan sia-siaa" Sekejap saja, ia sudah melesat dengan jaslab putih terbentang di atas kepalanya, berlari-lari menembus hujan. # Sunday berhenti, berpegang pada tiang halte, mengatur napas. Hari mulai larut, dan angkot tak kunjung datang. Besok ada laporan, S unday mengingatkan ...

Panggung kehidupan

Kurasa semua pernah jadi penonton dan pemeran mainkan macam macam adegan tapi tak pernah tau, kan jadi pahlawan 'tau figuran Naskah apa yang akan terjadi nanti? Kita, hari ini cuma bisa menebak Rasa rasa penasaran ini meruak merebak lebak Tetap saja tak tertebak Hari ini Di panggung siapa kita berdiri? Milikku? Milikmu? Lalu sekarang  Seperti kau sedang berada Di panggung yang berbeda Dan aku cuma bisa melihatmu saja Duduk di bangku dan menunggu Sampai nanti panggung kita sama lagi Ah, yang jelas, Aku senang Dulu panggung kita pernah bersisian Mei 2016 Chusna Amalia
I think that i need to write this down from my head My circumstance. I'm cloaked with people that are so good in the superficials. But only have a time for dressed up his/her own life. And the way people don't care about other's problem, annoyed me. Staring to myself. why's people are so focused on her/himself? how we leave others unhelped. saying "i do have another duty things" and forgetting that one day we might be the one who need help. forgetting that we might be the one who begged others to be on our side. Are we still wanna be that kind of people? Just a second, people. Take a look around, Care. Share your time it's the most priceless thing you've ever done to others.
Many things happen lately but I don't know how to write it in a way that can express how I feel It feels great Yet so far I dont know whether this is sad or happy I might write again after I conquer my Pencil. Bye. ❤
Tidak seperti anggapan. Malam ini. Lalu aku pulang Merasa tidak menemukan. Sedang yang kuingat selama tiga periode ini. Hanya kata-katamu saja. Terimakasih, sudahlah, dan dimana. Mungkin yang kurindu hanya euforia saja.

You

You Maybe the face I cant forget A trace of pleasure or regret May be a treasure or the price I have to pay You Maybe the song that summer sings Maybe the chills that autumn brings Maybe a hundred different things Within a measure of a day Costello.